SELAMAT DATANG RAMADHAN
Ramadhan merupakan
bulan yang suci dan mulia yang kehadirannya senantiasa didambakan oleh setiap
muslim, di mana saja mereka berada. Bulan ini merupakan bulan yang dipenuhi
dengan rahmat dan berkah dari Allah s.w.t. Dalam bulan Ramadhan yang agung itu
banyak peristiwa penting terjadi, seperti kemenangan kaum muslimin dalam perang
Badar, terbukanya kota Makkah, bulan yang di dalamnya terdapat malam kemuliaan
yang disebut Lailatul Qadar. Yaitu suatu malam yang nilainya lebih baik dari
seribu bulan. Dalam bulan Ramadhan, setiap ibadah dilipatgandakan balasannya
dan setiap orang yang beriman digairahkan untuk berbuat kebajikan, bulan turunnya
al-Qur’an, bulan kesabaran, dan berbagai keutamaan lain yang berkaitan dengan
ibadah dan mu’amalah yang diajarkan Islam.
Keistimewaan bulan
Ramadhan banyak disebutkan dalam hadis Nabi s.a.w., antara lain:
“Shalat
lima waktu, antara Jum’at dengan Jum’at yang lain, antara Ramadhan dengan
Ramadhan berikutnya dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya,
apabila menjauhi dosa besar”. (Hadis Shahih, Riwayat Imam Muslim: 344, dan
Imam Ahmad: 8830, dengan redaksi hadis dari riwayat Imam Muslim)
Dalam hadisnya yang
lain, Rasul Muhammad s.a.w. menyebutkan bahwa di bulan Ramadhan seperti juga
disebutkan dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 183, orang Islam diwajibkan
berpuasa di siang harinya dan disunnahkan shalat di malam harinya sebagaimana
disebutkan dalam hadis. Mereka yang berpuasa dengan baik sesuai dengan tuntunan
al-Qur’an dan al-Sunnah, akan terlepas dari dosa-dosanya sehingga menjadi
bersih kembali. Berdasarkan sabda Nabi s.a.w.
Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: "Siapa
yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni
dosanya yang telah berlalu”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 37 dan
Muslim: 1266).
Dari Abu Hurairah r.a. menuturkan,“Rasulullah
s.a.w. bersabda, "Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Ramadhan,
bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu.
Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka,
dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang
nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak memperoleh kebajikan di
malam itu, maka ia tidak memperoleh kebajikan apapun”. (Hadis Shahih,
Riwayat al-Nasa`i: 2079 dan Ahmad: 8631. dengan redaksi hadis dari al-Nasa’i)
Selama bulan Ramadhan sebagai bulan yang suci dan mulia, seorang
muslim senantiasa meningkatkan amal dan ibadahnya dengan penuh suka cita. Dan
para Malaikat senantiasa berseru:
“Wahai
orang-orang yang menghendaki kebajikan, bergembiralah dan wahai orang-orang
yang menghendaki keburukan tahanlah dirimu”. (Hadis Shahih, Riwayat al-Nasa`i: 2080 dan Ahmad: 18042, dengan
redaksi hadis dari al-Nasa’i)
Seseorang yang melaksanakan
puasa di bulan Ramadhan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya akan
memperoleh keistimewaan-keistimewaan yang belum pernah diberikan kepada umat
yang lain, sebelum umat Nabi Muhammad s.a.w. Dengan keistimewaan-keistimewaan
itu manusia akan meraih kebaikan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di
akhirat.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Telah diberikan
kepada umatku di bulan Ramadhan, lima hal yang belum pernah diberikan kepada
seorang Nabipun sebelumku yaitu: (1) Pada awal bulan Ramadhan, Allah s.w.t
melihat umatku. Siapa yang dilihat oleh Allah, maka dia tidak akan disiksa
untuk selama-lamanya. (2) Aroma mulut orang yang berpuasa, di sisi Allah lebih
baik dari aroma misik (kasturi). (3) Para malaikat memohon ampunan untuk umatku
siang dan malam. (4) Allah s.w.t memerintahkan (penjaga) surga-Nya:
“Bersiap-siaplah dan berhiaslah kamu untuk hamba-hambaKu, mereka akan
beristirahat dari kesulitan hidup di dunia menuju ke tempat-Ku dan
kemuliaan-Ku”, dan (5) Pada akhir malam bulan Ramadhan Allah mengampuni
dosa-dosa mereka seluruhnya”. Seorang sahabat bertanya: “Apakah itu malam Qadar
wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Tidak, tidakkah kamu mengetahui bahwa
para pekerja, apabila mereka selesai dari pekerjaannya, niscaya akan dibayar
upahnya”. (Hadis Hasan, Riwayat al-Baihaqi
dalam kitab Syua'b al-Iman: 3450)
Persiapan Menyambut
Bulan Ramadhan
Untuk menyambut
Ramadhan, bulan yang dipenuhi dengan rahmat dan karunia Allah, kita harus
mengadakan persiapan-persiapan yang dianggap perlu dan bermanfaat, terutama
dalam meningkatkan taqwa kepada Allah s.w.t. Di antara persiapan-persiapan itu
adalah:
[1] Hendaknya kita mengadakan atau memprakarsai
kegiatan ceramah di akhir bulan Sya’ban untuk menyambut bulan Ramadhan. Ceramah
itu bisa dilakukan di majlis ta’lim dan tempat-tempat pengajian, atau
pengarahan-pengarahan singkat untuk keluarga kita masing-masing. Dalam ceramah
itu dijelaskan berbagai bimbingan bagi jamaah atau keluarga kita, agar dapat
mengisi bulan yang penuh berkah itu dengan amal ibadah yang diridhai oleh Allah
s.w.t. Jangan sampai terjadi, bulan yang teramat agung itu berlalu begitu saja,
tanpa meninggalkan kesan yang mendalam yang dapat meningkatkan ibadah dan amal
shaleh kita kepada Allah s.w.t.
Ceramah pengarahan menyambut bulan Ramadhan ini
dilakukan Nabi di depan para sahabatnya, dengan menyampaikan ceramah singkat
mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan tuntunan Ramadhan. Agar kita semua
dapat mengambil manfaat dari pengarahan Rasul s.a.w. tersebut, berikut ini
dicantumkan ceramah beliau dengan lengkap:
“Wahai manusia, sesungguhnya telah menaungi kamu
bulan yang agung dan penuh berkah. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam
yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan itu, Allah menjadikan
puasanya sebagai suatu kewajiban dan qiyam atau shalat di malam harinya sebagai
ibadah sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan,
maka nilainya sama dengan mengerjakan kewajiban di bulan lain. Siapa yang mengerjakan
suatu kewajiban dalam bulan Ramadhan tersebut, maka sama dengan menjalankan
tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ramadhan itu adalah bulan kesabaran;
sedangkan ketabahan dan kesabaran, balasannya adalah surga. Ramadhan adalah
bulan pertolongan, pada bulan itu rizki
orang-orang mukmin ditambah. Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi
orang yang berpuasa di bulan itu, maka
ia akan diampuni dosanya, dibebaskan dari api neraka. Orang itu memperoleh pahala seperti orang
yang berpuasa tersebut. Sedangkan pahala puasa bagi orang yang melakukannya,
tidak berkurang sedikitpun. Para sahabat
bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tidak semua memiliki makanan untuk berbuka
bagi orang lain”. Bersabda Rasulullah s.a.w.:
“Allah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau
seteguk air, atau seteguk susu”. Dialah Ramadhan, bulan yang permulaannya
dipenuhi dengan rahmat, periode pertengahannya dipenuhi dengan ampunan dan
maghfirah, pada periode terakhirnya merupakan pembebasan manusia dari azab
neraka. Barang siapa yang meringankan beban pekerjaan pembantu-pembantu rumah
tangganya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan membebaskannya dari
api neraka. Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini, hendaklah kamu sekalian
dapat meraih empat bagian. Dua bagian pertama untuk memperoleh ridha Tuhanmu
dan dua bagian lain adalah sesuatu yang kamu dambakan. Dua bagian yang pertama
ialah bersaksi dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
hendaklah memohon ampunan kepada-Nya. Dua bagian yang kedua yaitu kamu memohon (dimasukkan
ke dalam) surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang memberi minuman
kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari telagaku,
suatu minuman yang seseorang tidak akan merasa haus dan dahaga lagi sesudahnya,
sehingga ia masuk ke dalam surga”. (Hadis Dhaif, Riwayat Ibnu Khuzaimah: 1780,
al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman: 3455. redaksi hadis di atas riwayat Ibn
Khuzaimah).
Prof. Dr. M.M. Azami, editor kitab Shahih Ibn Khuzaimah,
memberi catatan bahwa sanad hadis di atas adalah Dhaif, karena salah seorang
rawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud'an dikenal dhaif (lemah hafalannya). Menurut
kritikus hadis Yahya bin Ma'in, Ali bin Zaid bin Jud'an adalah laisa bi
hujjah (tidak dapat dijadikan hujjah), menurut Imam Abu Zur'ah Ali bin Zaid
bin Jud'an adalah laisa bi Qawiy (tidak kuat), dan begitu pula menurut
ulama yang lain. (Baca: Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA, Hadis-Hadis
Bermasalah, hal. 35). Hadis serupa dimuat pula dalam kitab-kitab yang
ditulis oleh para ulama terkenal, antara lain: Muhammad Yusuf al-Kandahlawi
dalam kitab Hayah al-Shahabah, III/400–401, Imam al-Munzdiri
dalam kitab al-Targhib wa al-Tarhib, I/16–17, Syekh Abdul Aziz bin
Abdullah bin Abdurrahman bin Baz dalam kitab Majmu’ Fatawa wa Maqalat
Mutanawwi’ah, XV/44–45. Prof. Hasbi al-Shiddiqi: Pedoman Puasa:)
[2] Dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan
Sya’ban, yaitu bagi mereka yang sebelum datangnya bulan itu telah membiasakan
puasa sunnah. Namun demikian satu atau dua hari menjelang masuknya bulan
Ramadhan dilarang melakukan puasa sunnah, kecuali bagi mereka yang sudah
membiasakannya.
Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, “Rasulullah s.a.w.
biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah
tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat
bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Akan tetapi aku tidak pernah melihat
Rasulullah s.a.w. berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku
tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan
Sya’ban”. (Hadis Shahih, riwayat Bukhari: 1833 dan Muslim: 1956. teks hadis
riwayat al-Bukhari).
Mengenai larangan puasa sunnah satu atau dua hari menjelang
masuk Ramadhan, kecuali bagi mereka yang telah membiasakannya, disebutkan dalam
hadis Nabi s.a.w.:
“Jangan
kamu dahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang
yang mempuasakan puasa tertentu, maka ia boleh meneruskan puasanya”. (Hadis Shahih, riwayat Bukhari: 1781 dan Muslim: 1812. teks hadis
riwayat al-Bukhari).
[3] Menyambut bulan Ramadhan dengan “tahni’ah”, yaitu
menggembirakan umat Islam dengan kedatangan bulan itu yang penuh rahmat.
Rasulullah bertahni’ah menyambut bulan Ramadhan dengan sabdanya:
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan
yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam
bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan
syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya
lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak memperoleh kebajikan di malam
itu, maka ia tidak memperoleh kebajikan apapun”. (Hadis Shahih, Riwayat al-Nasa`i: 2079 dan Ahmad: 8631. dengan
redaksi hadis dari al-Nasa’i)
Ibadah puasa Ramadhan merupakan amal yang istimewa, karena
ibadah yang lain adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan ibadah puasa adalah
milik Allah s.w.t. Dalam melaksanakan puasa diharapkan tidak hanya dapat
meninggalkan makan, minum dan segala yang membatalkannya, akan tetapi harus
dapat menjaga diri dari segala perbuatan yang tercela. Puasa itu diharapkan
dapat membentuk sikap mental kita, menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah
dan beribadah dengan penuh keikhlasan.
Dalam berpuasa, manusia muslim dibentuk agar dapat meningkatkan
kesabaran, ketabahan, peningkatan daya tahan mental dan fisik. Rasa haus dan
lapar dikala berpuasa, dapat meningkatkan solidaritas sosial terhadap orang-orang
miskin yang ditimpa kesulitan, dan anak-anak yatim yang terlunta-lunta.
Mengenai keutamaan ibadah puasa dan keharusan bersikap sabar, disebutkan dalam hadis
Qudsi:
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Setiap amal
seorang manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku
dan Aku akan memberikan balasan kepadanya. Puasa itu adalah perisai, karena itu
apabila salah seorang di antaramu berpuasa, janganlah mengucapkan perkataan
yang buruk dan keji, jangan membangkitkan syahwat dan jangan pula mendatangkan
kekacauan. Apabila ia dimaki atau ditantang seseorang, maka katakanlah: Aku
sedang berpuasa,..”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1771).
Visitors :14824 Org
Hits : 50424 hits
Month : 926 Users